Monday, June 29, 2015

Semangat "Urutsewu Satu Tubuh"



Suasana "Sidang Rakyat" Urutsewu, Minggu [28/4] di Masjid al-Barokah Setrojenar

Terhitung ada 203 petani dan warga pesisir Urutsewu Kebumen selatan malam itu bergerak menuju satu tempat, selepas tarawih malam di masjid al-Barokah Setrojenar. Di situ lah ratusan orang ini berdatangan dari desa-desa mulai Ayamputih, Setrojenar, Brecong, Entak, Kaibon Petangkuran, Kaibon, Mirit Petikusan, Tlogodepok, Lembupurwo dan Wiromartan. Tak ada yang memprovokasi petani, selain dituntun oleh kesadaran untuk berjuang mempertahankan kedaulatan hak atas tanah pesisir dimana kesatuan tentara tengah membangun pagar di sana. 

Tindakan pemagaran pesisir Urutsewu oleh TNI-AD di beberapa desa, yang oleh kalangan pegiat sosial dinilai arogan; kini benar-benar membuahkan perlawanan rakyat. Proyek “prestisius” pemagaran pesisir ini telah menjadi topik utama dalam “sidang rakyat” Urutsewu, Minggu [28/6]; yang pada akhirnya memutuskan untuk melancarkan penolakan bersama. Sikap bersama yang terangkum dalam pomeo Urutsewu Satu Tubuh ini telah dinyatakan dalam agenda konsolidasi UrutSewu Bersatu [USB] di masjid al-Barokah Setrojenar.

Beberapa malam sebelumnya serangkaian aktivitas spiritual, seperti doa dan mujahadah, telah pula digelar masyarakat di berbagai tempat. Kecuali sebagai bentuk tafakur keprihatinan dalam merespons realitas sosial ke dalam ibadah, serangkaian ritual mujahadah ini telah dapat mengkonsolidasikan kesadaran baru dan secara bertahap menumbuhkan keberanian untuk bangkit menyatakan sikap perlawanan bersamanya. 

Progress Penting

Ini adalah progress penting dalam perjuangan petani pesisir Kebumen selatan yang terus melawan perampasan tanah pertanian holtikulturanya. Terutama pasca Tragedi Setrojenar 16 April 2011 yang tak berkeadilan hukum itu. Sidang rakyat seperti ini pernah terjadi di sebuah mushola tak jauh dari masjid ini, pada 24 Februari 2011 silam; pasca para pemuda membangun gapura wisata yang ditentang tentara. Kini komposisi partisipannya lebih luas karena mencakup hampir seluruh desa-desa yang ada di kawasan pesisir Urutewu.

Banyak hal mengemuka pada persidangan rakyat malam itu yang tema pokoknya beraras pada tindakan militer dalam membangun pagar di sepanjang pesisir selatan. Tercatat ada 6 desa yang pesisirnya telah selesai dipagar. Yakni desa Kenoyojayan, Ambalresmi, Kaibon, Sumberjati, Mirit Petikusan dan Tlogodepok. Pemagaran di 6 desa tersebut bukan tanpa penolakan warga. Petani dan unsur pemerintah desa telah melakukan pendekatan persuasif di lapangan. Tapi itu tak bisa menghentikan pemagaran, terlebih yang direkrut bekerja juga warga desa setempat sehingga rawan perselisihan horisontal.  

Sedangkan untuk desa Entak, Kaibon Petangkuran dan Wiromartan berbeda karena petani langsung bertindak menutup galian kembali setelah pekerja menggali lubang fondasi pagar yang menerjang tanaman holtikultura dan lahan-lahan garap petani. Tak kurang, koordinator USB Widodo Sunu Nugroho dan koordinator FPPKS, Seniman juga duduk sejajar petani lainnya pada sidang rakyat malam itu...   

0 comments:

Post a Comment