Monday, July 20, 2009

Mushola Setro jadi Sentra Komando

Referensi gerakan massa boleh menukil dari mana saja, termasuk Latin Kontemporer dengan spirit Bolivariannya. Atau juga Filipina dengan peran gereja pada masa penggulingan diktator Ferdinand Marcos.
Di desa Setrojenar, petani belajar dari persoalan laten yang krussialnya. Sehingga mushola, dalam situasi darurat massa, dapat berubah fungsinya menjadi pusat komando gerakan.
Ini terjadi pada lepas tengah hari ini Senin, 20 Juli 2009 lalu.
Inisiasi Bupati Kebumen KH.Nasiruddin al Mansyur, beserta wakilnya Rustriyanto, yang menemui warga Setrojenar di Kantor Camat Buluspesantren, setelah pagi harinya dari Kec.Ambal. Dalam rombongan ini datang pula, Kapolres Akhmad Haydar beserta Kasat Intelkam dan lainnya. Juga Komandan Kodim 0709, dan beberapa staf. Tak ketinggalan Kepala Satpol PP berikut pasukannya. Satuan Polisi Dalmas juga disiagakan beberapa dan ada sepasukan lain yang disiagakan serta diketahui berada di tempat terpisah.
Forum Pertemuan yang difasilitasi Camat Buluspesatren dan dipimpin langsung oleh Bupati ini pada intinya berkaitan dengan program latihan Taruna Akmil. Latihan ini rencananya akan dilaksanakan selama 4 hari, mulai tanggal 22 Juli hingga 25 Juli 2009.
Intinya, TNI-AD melalui Bupati dan jajarannya, meminta masyarakat Urut-Sewu, khususnya petani desa Setrojenar untuk memberikan kesempatan bagi sukses terselengarakannya latihan Akmil itu.
Dua hari sebelumnya juga telah dilayangkan surat pemberitahuan dari Koramil Buluspesantren terkait latihan itu. Terhadap surat ini, petani melalui FPPKS membalas dengan menyurati Kapolres (dengan tembusan para pihak) tentang penegasan penolakannya.
Bahkan dalam surat itu (item 2) dinyatakan Petani akan melakukan penghadangan terhadap tentara dan menggagalkan dengan berbagai cara terhadap rencana latihan TNI.

Resistensi Petani

Penolakan petani terhadap latihan TNI di kawasan itu, pasca Aksi 14 Mei 2009, mendapatkan ujian. Apakah penolakan ini sekedar tuntutan sekelompok golongan reaksioner ataukah memiliki konsistensi dan solidaritas yang terus meluas. Fakta membuktikan alasan yang ke dua. Petani Menolak !. Resistensi ini lalu maujud ke dalam gerakan massa buat yang ketiga. Ratusan orang mengepung Kantor Camat Buluspesantren, tempat diselenggarakannya pertemuan yang dimulai pada jam 14.00 siang itu. Sehingga terakumulasi jumlah hingga ratusan orang banyaknya, meskipun yang diundang dalam pertemuan siang itu hanya beberapa perwakilan petani dan tomas.
Massa yang tertahan di luar pagar halaman dan terpanggang matahari, tak sabar menyikapi perkembangan musyawarah. Saat terhalang waktu sholat ashar dan musyawarah dipending oleh Bupati, massa mulai menunjukkan kekecewaannya. Terjadi dorong-mendorong antara massa yang merangsek dengan aparat polisi di pintu halaman.
Saat itulah didatangkan dua truk pasukan Dalmas yang semula bersiaga di Polsek yang berjarak ratusan meter di utara kantor Camat Buluspesantren. Situasi ini makin memicu kemarahan petani. Lalu beberapa mushola di yang ada di desa Setrojenar mengumandangkan seruan siaga. Merembet diikuti oleh mushola lain di sebelah timurnya. Muncul pula gerakan massa dari desa Brecong dan Entak. Dan saat postingan ini ditulis, susulan massa dari lain desa terlambat tiba.
Beruntung, bahwa pada akhirnya Bupati memutuskan untuk menggagalkan Latihan Taruna TNI di kawasan itu, dan meminta jajaran TNI untuk mengalihkan ke tempat lain.
(to be continued)

0 comments:

Post a Comment