Saturday, September 03, 2011

Rekor 17.000 Pengunjung Pantai Setrojenar


Pada hari Kamis, 1 September 2011 dilaporkan mengenai rekor kunjungan di pantai Setrojenar; yakni sejumlah 17.000 pengunjung. Estimasi ini didasarkan pada jumlah tiket wisata yang terjual, yakni sekitar 16 ribuan lembar, ditambah anak-anak yang memang tak dikenai pungutan tiket masuk lokasi.
Adapun kendaraan yang parkir meliputi 5.000 unit sepeda motor, 2.000 unit mobil roda empat, 50 truk dan 100 mobil bak terbuka. Sedangkan sepeda yang parkir sekitar 200-an.
Bahkan sempat terjadi kemacetan total sejak jam 15.00 wib hingga 19.16 wib pada ruas sepanjang 200 meter seputar gapura wisata, tak jauh dari bentangan pantai samudera Indonesia.
Fenomena kemacetan ini menjadi bukti bahwa tempat ini lebih baik untuk pengembangan pariwisata tradisional. Pengunjung yang terjebak macet tetapi masih di bagian belakang, bahkan enggan berbalik meski hari telah mulai gelap.

Meretas Kemandirian Keamanan Desa

Seperti tak habis diterpa cobaan paska terjadi tragedi berdarah (16/4) di desa ini selalu saja ada fihak yang mengintimidasi. Mengusik ketentraman dengan berbagai kabar tak sehat datang dari kelompok orang yang diidentivikasi sebagai sebuah forum komunikasi Urutsewu. Terakhir diperoleh informasi dari “meeting” yang mereka selenggarakan di rumah seorang mantan Kades Setrojenar, bahwa aktivitas parkiran di lokasi wisata pantai desa ini akan dibubarkan. Tak sekali kelompok berkarakter premanisme ini menabar desas-desus yang meresahkan warga. Dengan alasan yang tak jelas tetapi mengusik ketentraman masyarakat itu pada dasarnya dapat menabur benih konflik baru.

Banyak warga menyayangkan sikap tak bersahabat dari kelompok di luar petani yang tengah dilanda konflik struktural dengan segala pernik eksesnya. Sejauh ini, kabar “ancaman” itu memang tidak manifest dalam tindakan berupa gangguan keamanan baru bagi warga desa. Tetapi pengawalan kedaulatan desa telah menumbuhkan kesadaran banyak warga Setrojenar untuk tetap menjaga dan melindungi desa dari segala bentuk gangguan, termasuk gangguan terhadap keamanan dan ketentraman desa. Sikap demikian telah teruji setidaknya selama tiga tahun terakhir ini. Faktanya, desa Setrojenar merupakan desa dengan angka kriminalitas rendah.

Sedangkan aktivitas parkiran kendaraan pengunjung pantai Setrojenar itu merupakan kegiatan yang telah mentradisi. Keamanan para pengunjung berikut kendaraannya lebih terjamin. Dan perolehan dari mengelola jasa parkir kendaraan di pantai telah memberikan kontribusi yang signifikan. Membuka lapangan kerja bagi warga dan memberikan kontribusi ke desa serta banyak pula membantu aktivitas dan pembangunan tempat-tempat ibadah di desa itu. Kalau pun benar akan ada gangguan terhadap keamanan desa ini, maka yang akan menanggulangi pertama kali adalah warga desa seluruhnya.

Menyambut Lebaran, Tradisi Membuka Kunjungan

Diantara potensi wisata desa ini adalah keberadaan pantai samudra berikut pertanian tanaman hortikultur yang akan dan terus berkembang. Tingkat kunjungan wisata di desa ini relatif tinggi, dan cenderung meningkat setiap tahunnya. Bahkan sehari-harinya pun selalu saja ada orang berkunjung, terutama pada pagi dan senja. Pesona sunrise dan sunset menjadi pesona tersendiri yang digemari. Daya tarik lain adalah kuliner pecel dan peyek kumbang pasir (undur-undur) yang merupakan kekhasan menu wisata desa. Ada juga stand-stand yang menjual aneka pakaian. Terdapat 2 fasilitas mushola dan toilet umum. Lebaran tahun ini pun lokasi pantai berbenah dengan kesiapan penuh ramah. Tak terkecuali para pedagang tradisional dari luar desa, seperti penjual menu Sate Ambal yang khas.

Ada berbagai fasilitas, permainan anak-anak dengan kolam renang mini air tawar. Fasilitas kolam renang mini yang dapat dibongkar-pasang ini bahkan terdata 21 kolam jumlahnya. Keberadaan kolam renang ini ditengarai sebagai upaya cerdas warga dalam menekan angka korban hanyut di laut. Anak-anak dapat sepuasnya mandi di kolam air tawar yang sangat jernih hasil penyaringan pasir alam yang belum dieksploitasi pertambangan. Fasilitas hiburan lain ada kereta kelinci, dremolem ala pasar malam berikut rumah hantu dan komidi putar, serta sewaan kuda, juga tersedia. Di dekat lokasi pesisir ini juga terdapat bentangan lahan semangka yang dibudidayakan petani lahan pasir. Semangka ini dapat dipetik sendiri oleh pengunjung langsung di lahan atau dapat diperoleh dengan membelinya di dangau tepian jalan. Semua ini merupakan aktivitas budaya warga desa yang akan terus dilestarikan.

0 comments:

Post a Comment