This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, November 23, 2010

FPPKS dan Resistensi Permanent

Untuk kali kedua, paparan Draft Akhir Perda RTRW Kabupaten Kebumen melahirkan kontroversi. Naskah Executive Summary yang dipaparkan Tim Bantek Penyusunan Raperda RTRW, di Gedung Setda pada Kamis (11/11) itu memancing kecaman keras Petani Kebumen Selatan. Tim Bantek, di mata petani, dianalogikan seperti keledai yang hanya mengulang untuk "terantuk pada batu yang sama" pada kali kedua.
Tak kurang pula, seorang Seniman, Ketua Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS) yang diundang pada acara paparan itu, membuat pernyataan sikap para petani pesisir yang tergabung dalam wadah ini.
Sikapnya ini mengundang reaksi Komandan Kodim 0709 Kebumen, yang kini dijabat oleh Letkol (inf) Windyatmo dari Kesatuan Baret Merah. Sampai-sampai sang Kopassus ini perlu mengajak "rembug" masalah kawasan selatan.
Substansi kontroversil Raperda RTRW Kabupaten Kebumen yang memicu kembali kemarahan petani pesisir adalah sebagaimana dimuat dalam Executive Summary halaman 39 diktum f.
Sebenarnya, secara substansial, klausul yang menyebutkan kawasan hankam 500 meter dan panjangnya 22,5 Km aepanjang pesisir dari Kali Luk-Ulo hingga Kali Wawar ini; pernah ditolak oleh DPRD Kabupaten Kebumen pada acara paparan yang sama setahun yang lalu. Padahal kini telah ada Perda Jateng tentang RTRW, yakni Perda No.06 Tahun 2010, yang jelas-jelas menyebutkan peruntukan wilayah pertahanan dan keamanan ini adalah wilayah Kecamatan Mirit. (http://setrostelsel.blogspot.com)
(to be continued)

Monday, November 08, 2010

Maping Merapi



Sunday, November 07, 2010

Bantuan "wulu-wetu" Bumi untuk Korban Merapi

“Apa yang bisa kami berikan untuk Merapi dan semua mahluk bernyawa yang ada di sekitarnya?”, begitu pesan pendek Seniman, sang Ketua Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS) kepada Indipt, pasca erupsi pertama gunung Merapi, yang diketahui menyemburkan jutaan meter kubik material vulkanik dari perut bumi.
Banyak. Secara spontan begitu gemuruh suara dalam hati kami. Apalagi dengan mengingat bahwa ada lebih dari 3000 KK petani di pesisir Kebumen Selatan yang tergabung dalam FPPKS. Suara hati ini lebih dari sekedar menggedor-gedor, seiring dengan gelombang tebaran “wedhus gembel” yang menimbulkan eksodus pengungsi akibat erupsi gunung Merapi yang susul-menyusul dan seolah masih tak mau berhenti menebar ancaman kematian, meski telah pula nyawa manusia dan rajakaya jadi korban.

Data teknis jumlah pengungsi hingga Sabtu, 6 November 2010, jam 13.30 siang sebanyak 202.707 orang. Jumlah ini tersebar pada 4 kabupaten di seputar gunung berapi paling aktif se dunia yang meletus sejak Selasa (26/10). Rincian jumlah pengungsi meliputi wilayah Sleman (56.500 orang), Boyolali (35.593 orang), Klaten (44.776 orang) serta Magelang (65.838 orang). Dimungkinkan jumlah pengungsi ini bakal bertambah banyak, mengingat luasan daerah rawan bencana juga kian jauh radiusnya.

Maka dimulailah upaya memobilisir bantuan kemanusiaan dari kawasan pertanian pesisir selatan Kebumen ini melalui koordinat desa Setrojenar di rumah seorang kiai kampung Imam Zuhdi itu. Pada awalnya, jenis bantuan yang sesuai dengan kebutuhan mendesak bagi pengungsi dan menjadi ragam pilihan yang cukup sulit. Mengingat informasi yang diperoleh masih amat minim, meskipun pemberitaan media amat gencar tiap harinya. Jika harus mengirim bantuan dalam bentuk uang, sulit dikumpulkan dalam jumlah yang pantas, mengingat kebutuhan ongkos produksi tanaman pangan di wilayah ini cukup tinggi. Akhirnya diputuskan untuk mengirim hasil bumi yang ada saja. Hasil bumi atau yang dalam idiom lokal disebut “wulu-wetu” menjadi pilihan yang paling mungkin dan cepat didapat. Begitu juga dengan pilihan kemana bantuan bakal dikirim supaya segera dapat dimanfaatkan oleh para pengungsi secara cepat dan sesuai kebutuhan.

Langsung dari Lahan Pertanian “Urut-Sewu”


Pengiriman bantuan dari Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS) tahap pertama, dikumpulkan dan dikirimkan pada Minggu (7/11) dan dimuat dengan truk pada jam 14.00 siang. Hasil bumi yang dikumpulkan langsung sejak pagi hari dari lahan pertanian desa Setrojenar dan Kaibon ini terdiri dari: sayuran, buah dan bahan makanan lain serta pakaian pantas pakai untuk perempuan dan anak. Bahan pangan lokal berupa singkong, ketela rambat, jagung, pepaya, kelapa. Sayuran terdiri dari daun ketela, kangkung, tomat, nangka muda, terong ungu, cabe keriting, dll. Sedangkan beras diambilkan dari kampung dan beberapa dos mie-instan serta pakaian pantas pakai. Nampak kaum ibu juga terlibat dalam pengumpulan bahan pangan ini. Belum semua desa di kawasan ini memobilisir bantuan pangan.

Hal ini disebabkan karena kesiapan masing-masing desa memang berbeda dan juga dimaksudkan supaya bantuan serupa akan terus dikumpulkan pada hari-hari berikutnya. Sehingga pasokan bahan pangan dari wilayah pesisir selatan ini tak cuma terjadi sekali dan sehari. Desa Brecong, Entak, Petangkuran dan lainnya diharapkan menyusul dan pengiriman dapat dimobilisir setidaknya dua kali dalam sepekan atau sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan. Hal lain yang pantas dicatat bahwa inisiasi pengumpulan dan pengiriman bantuan bahan pangan ini murni dilakukan antar petani saja dan belum melibatkan partisipasi pihak pemerintahan desa.

Diharapkan dengan begitu akan terbangun solidaritas yang lebih luas dan mendorong yang lain sehingga tergerak untuk memberikan bantuan serupa. Untuk tahap pertama ini, petani berharap distribusi bantuan tidak menumpuk di wilayah tertentu saja. Menurut Ubaidilah sesaat sebelum pemberangkatan kendaraan pengangkut, bantuan ini akan dikirim ke wilayah Magelang, terutama Muntilan dengan melalui CRCS-UGM Jogjakarta dan akan mendapatkan penambahan barang; sebelum kemudian dikirim ke Posko CBDRM-NU di Ponpes Darussalam Watucongol, Muntilan.
Jumlah pengungsi di wilayah Magelang memang jauh lebih banyak ketimbang pengungsi di wilayah lain.

Tuesday, September 21, 2010

Latihan Tembak Senjata di Ambalresmi

Selasa, 21 September 2010, untuk kali ke dua pada tahun 2010 ini TNI-AD melakukan latihan rutinnya. Pasca resistensi sebagian besar petani di pesisir selatan terhadap latihan tentara, terutama penolakan yang dimotori warga desa Setrojenar; kini tentara mengalihkan tempat latihannya di desa Ambalresmi, Kecamatan Ambal.
Latihan yang dimulai sejak jam 09.00 pagi melibatkan penggunaan senjata ringan dan senjata berat yang dipasang di kendaraan Jeep dan ditempatkan di atas gumuk pasir sekitar 500 meter dari garis air. Kanon berkaliber 76 mm, dalam latihan ini ditembakkan lurus ke arah timur. Jangkauan tembak senjata ini sejauh 600 meter.
Menurut beberapa prajurit yang berlatih di lapangan, beberapa dari senjata yang ditembakkan ini tidak meledak dan mendarat di zona itu. Kasus demikian mengingatkan apa yang pernah terjadi pada tahun 1998, di desa Brecong yang ditembakkan ketika latihan masih menggunakan pesisir desa Setrojenar. Pada peristiwa itu, sisa mortir yang tidak meledak ini tidak cermat dibersihkan setelah latihan. Di hari berikutnya, beberapa anak menemukan mortir dan mengusungnya pulang ke desa. Saat dicongkel pada bagian yang mirip sirip hiu, meldaklah mortir itu dan menewaskan 5 anak dengan tubuh berkeping.
(to be continued)

Monday, September 13, 2010

Wellcome to SetroJenar , Visitor !

: Selamat Datang di Setrojenar !
Meski secara verbal tak ada tulisan "Selamat Datang" yang terpampang, tetapi di hati mayoritas warga desa ini, makna ucapan itu telah manifest menjadi sikap bersama.
Demikianlah, maka sejak penghujung bulan puasa warga membikin persiapan. Dan rekor kunjungan turis domestik di pesisir nan eksotik telah dipecahkan sejak Lebaran hari ke-2. Begitu juga pada Lebaran hari ke-3 yang kebetulan bertepatan dengan hari Minggu. Belasan ribu pengunjung memadati jalan hingga lokasi pesisir laut selatan.
Estimasi jumlah pengunjung yang mencapai belasan tibu ini didasarkan pada jumlah penjualan tiket masuk serta prediksi banyaknya pengunjung lain yang masuk tanpa membeli tiket.
(to be continued)

Wednesday, August 25, 2010

Latihan Tentara di Zona Terlarang

Hari ini, Rabu, 25 Agustus 2010, TNI-AD melakukan latihan militer di desa Ambalresmi, Kec. Ambal. Kawasan ini, menurut Perda Provinsi Jateng tentang Rencana Tata Ruang Wilayah; bukan termasuk kawasan Hankam. Berulangkali tentara tak mau peduli aturan yang ada. Ini semua sangat pantas menjadi preseden buruk betapa "tak tahu aturan" mereka itu. Dan itu sudah sejak dahulu.
Kasunyatan ini mesti menjadi investasi kesadaran massa rakyat tani, bahwa hegemoni di kawasan kultural dan agrowisata harus tetap dilawan. Penolakan latihan tentara di kawasan ini menjadi kebutuhan pasti untuk selalu diintrodusir terus menerus.

Thursday, August 12, 2010

Waspada: Mau Apa -sebenarnya- Tentara ?

Di awal bulan Ramadhan ini TNI-AD telah membangun infrastruktur {bangunan) baru di Desa Ambalresmi, Kecamatan Ambal. Selama ini, hampir setiap hari, satu unit truk pengangkut mengirim personel tentara ke kawasan pantai Ambal melalui jalan desa yang telah beraspal. Rupanya memang ditargetkan sebelum puasa, bangunan ini telah berdiri. Sepintas, keberadaan bangunan ini biasa saja, atau malah baek-baek saja. Tetapi jika merunut histori kerakyatan, bahwa di kawasan pantai selatan Kebumen lebih bermaslahat untuk kawasan pertumbuhan ekonomi yang berbasis pertanian dan wisata rakyat. Maka keberadaan bangunan ini memang menimbulkan tanda tanya. Terlebih sekarang telah ada Perda Provinsi Jawa Tengah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah, dimana disebutkan bahwa wilayah yang diperuntukkan bagi kawasan pertahanan dan keamanan adalah wilayah kecamatan Mirit.

Di tempat lainnya, yakni di Desa Ayamputih, Kecamatan Buluspesantren; TNI-AD juga tengah memulai membangun gardu posko di tepi jalan Daendels, 100 meter arah timur jembatan sungai Luk-Ulo. Konon, tempat itu memang agak rawan belakangan ini, terutama setelah TNI-AD ditolak ribuan petani untuk tidak lagi memanfaatkan tanah pertanian dan areal wisata sebagai tempat latihan tentara. Beberapa warga juga diminta oleh tentara untuk bergilir kerjabakti selama pembangunan gardu itu. Tiap hari ada tiga warga yang bekerja tanpa upah selain diberi makan, bergiliran. Mungkin maksudnya ini Tentara Manunggal Rakyat.
Namun, jika bicara perkara keamanan, sesungguhnya, menjadi wewenang kepolisian; tetapi kenapa jadi ada tentara lagi di kampung itu.
Jadi, apa maksud dibangunnya gardu jaga ini oleh tentara?

Friday, August 06, 2010

Visi Ekologis dalam Tata Ruang Wilayah

DISKUSI/USULAN
FGD 5, 5 Agustus 2010, di Ruang Rapat Bappeda Kebumen.

TERMIN 1

1.Bapak Slamet Efendi, Kutowinangun
Keinginan : Rangkuman hasil FGD dipresentasikan, kemudian peserta menanggapi kekurangan yang belum ada.

2.Bapak Helmi
Usulan : Diskusi seperti air mengalir saja....langsung ke usulan saja tidak dibatasi per segmen
3.Waktu sesuai dengan kebutuhan.

4.Bapak Junedi Sidik (HPT)
Usulan :
Industri harus tertata, alokasi tempat dikaji sesuai potensi sehingga tidak mengambil lahan sawah.
Perda mohon disosialisasikan ke masyarakat
Pantai selatan, cocok untuk hankam, bagaimana ttg berita pasir besi yang akan ditambang, mohon ditata sebaik-baiknya

5.Ibu Irma Suzanti
Usulan :
Tentang pasar, Kebumen lama lama akan menjadi kota mall, secara pribadi tidak setuju krn dampaknya pada pasar tradisional menjadi sepi. Contoh : pada acara grebegan sangat sepi, hal ini juga terjadi di Gombong seperti Kota Kebumen.
Mohon di dalam RTRW Kebumen mengakomodasi sampai dengan jarak pasar dengan mall
Dimensi moral , masuk dalam penyusunan RTRW
Fasilitas publik sulit terjangkau oleh masyarakat karena lokasi dan transportasi belum memadai, contoh RSUD dll.
Sistem pemasaran hasil panen, diperlukan pengaturan tata ruang yang memudahkan petani dalam memasarkan hasil panennya.akan dikembangkan agropolitan
Jalan sangat padat, rawan kecelakaan, diperkirakan belum optimalnya pengaturan transportasi sehingga diperlukan pengkajian kembali (termasuk pengaturan laki-laki/perempuan/perspektif gender)

6.Bapak Ardian, HNSI
USULAN :
Penambangan pasir besi dapat mengganggu pendapatan nelayan, kerusakan alam juga sangat berpengaruh pda habitat ikan dan bisa mendatangkan bencana
Puring-Mirit (Gumuk Gajahgunung ): tidak ada penggalian, sektor pertanian, pariwisata, perikanan sangat berkembang, masalah : karakter masyarakat perlu dibimbing. Mis: dengan penambahan layanan anggota Polri
Perlu adanya penghijauan kembali di pantai.
Ada 8 TPI, dalam satu kecamatan hanya ada 1 jangan dobel,perlu tambahan sekolah/SMK perikanan yang mengakomodasi potensi tersebut (penyerapan lulusannya)
Sektor pariwisata : jangan ego sektoral, harus secara keseluruhan sektor perlu dikembangkan secara bersama.saat ini Forum ekonomi mohon ditindaklanjuti tidak hanya diskusi

7.Bapak Tursino.Pemerhati kawasan Karst Gombong Selatan
Usulan :
Bagian atas dikelola oleh perhutani, dibagian bawah oleh masyarakat.
Kurang memperhatikan kawasan dibawahnya, krn ada lahan gundul shg mengakibatkan tanah longsor
Perlu ada penyatuan peraturan oleh Pemkab Kebumen.Contoh : Dibangun TPI (Dinas perikanan) ada pengelolaan hutan bakau oleh LH untuk itu diperlukan penyatuan program
Penanaman pohon untuk mengurangi laju akibat adanya bencana Tsunami ( diperlukan tata ruang khusus wilayah pantai, jalur evakuasi, jalur sepeda dengan masterplan khusus)
Mempunyai potensi buah-buahan dan dapat dikembangkan sebagai daerah wisata

8.Bapak Muhamad Sujangi (Forum DAS)
Usulan :
Kebumen mempunyai potensi di sektor kehutanan dan pertambangan, saat ini data potensi ini belum ada, perlu pemetaan dan pendataan potensi kedua sektor tersebut yang terbagi dalam berapa Zona.Mis: didaerah utara untuk apa.....(daerah hulu) , dan didaerah lainnya
Ada 4 wilayah yang menangani wilayah hutan negara.
Ada potensi kehutanan yang tidak terorganisasi sehingga hasil hutan dijual secara gelondong, kalau diolah dapat menyerap tenaga kerja lokal., kondisi ini kurang kondusif untuk promosi investasi.
Perijinan pertambangan perlu ditertibkan dan dicarikan jalan keluarnya (regulasi/aturan main agar para pengusaha memperoleh kesempatan untuk berusaha, demikian pula masyarakat dapat menikmati)
Sektor kehutanan, pertambangan dan LH menjadi satu kesatuan pengelolaan aturan.
Usulan ini diikuti dengan dukungan pembiayaan dari Pemerintah.

TERMIN 2

1.Bapak Helmi, kawasan Karangsambung
Usulan :
Mohon kesepakatan, Karangsambung meliputi 3 kabupaten yatu Kebumen, Banjarnegara dan Wonosobo, sehingga perencanaan hrs melibatkan 3 kab tersebut.
Ada data tentang kawasan tetesan minyak yang ada di Ibukota karangsambung, data detail sampai tingkat desa pihak kawasan telah mempunyai data maupun kajian harus diintegrasikan.
Mohon diperhatikan rencana IKK yang sudah kami susun.
Sebelah utara yang merupakan fungsi lindung, yang tidak berarti tidak ada perkotaan dan kehidupan masyarakat.
Fasilitas kesehatan sudah melayani daerah daerah diluar wilayahya perlu diperhatiakn.
Diatas Karangsambung perlu dikaitkan dalam analisa terhadap kawasan yang diatasnya (wonosobo), Konsultan mencari data kajian tsb untuk diintegrasikan dalam RTRW

Inti Perencanaan yang mencakup fenomena alam kita sikapi secara khusus entitas potensi yang sama secara menyatu/simultan.
Dari sisi geologi kita menghadapi situasi secara kasat mata tentu saja tidak kaku tidak lalu masyarakat tidak dapat beraktifitas sama sekali.Bukan begitu maksudnya, tentu saja dalam Tata ruang dilakukan secara menyeluruh aturan –aturan apa dan batasan-batasan seperti apa yang akan ditetapkan. Acuannya adalah pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, justru itu yang akan diatur dalam RTRW.


2.Bapak Miftahul "Ulum (HIPMI)
Usulan :
Belum ada ketegasan tentang perda, contoh : perda ttg konservasi harus sinkron dng regulasi yang ada di Kebumen.
Pembukaan akses ke utara perlu dicermati terhadap penggalian tambang yang tidak terkendali.Jangan sampai kita hanya menerima kerusakan, daerah lain menerima manfaat yang lebih besar secara ekonomis.
Kawasan Karst itu membanggakan ttp kalau masyarakat tidak menikmati hasil manfaat apa artinya.
Kebumen mempunyai daerah padat di Kota (kawasan padat dng sanitasi yang cukup jelek/kumuh: Keposan).
Pro orang lemah/arsitek untuk kita semua: misalnya penyediaan fasilitas untuk orang cacat/sarana aksesibilitas?
PNPM : sinkron dengan RTRW, bagaimana caranya ?
(Botton up dan Top Down)
PDRB tertinggi disektor pertanian, angka kemiskinan juga disektor pertanian (petani), angka miskin sekitar 26...., Apabila petani naik 10% kesejahteraannya maka Kabupaten Kebumen juga akan meningkat pesat.
Masalah pertanian : saluran irigasi rusak, tidak terselesaikan krn hal ini mrpk tanggungjawab pusat, Pesimis Visi misi ttg agropolitan tidak tercapai.
Perlu ada sinkronisasi riil antara pusat dengan daerah untuk bidang pertanian.
Nuansa politis sangat kuat dalam kebijakan pendanaan.

3.Bapak Arif (RSU kebumen)
Usulan:
Perlu ditinjau kembali ttg statement kawasan tengah yang berpotensi saja yang dikembangkan, tetapi yang tidak berpotensi juga harus dikembangkan(perumahan, dls)
Mohon ditegaskan dalam kesepakatan awal RTRW
Jangan sepert di Jogja dimana konsentrasi hanya di Tengah dan Utara, setelah itu baru mikir yang tidak berpotensi, mohon untuk Kebumen dipikirkan simultan antara yang berpotensi maupun tidak berpotensi secara bersama-sama agar dapat maju bersama.

4.Bapak Untung Karnanto (forest Trust)
Usulan:
Belum dicantumkan potensi kehutanan (hutan rakyat), mohon dikembangkan dan dicantumkan dalam penyusunan RTRW, Misal : potensi tangkapan air, penanaman pohon one man one tree, ini akan mengurangi kerawanan banjir.
Bendungan Sempor
Kawasan Karst : bagaimana mengelola mjd pertambangan/industri semen? Mohon penjelasan ?krn kalau kawasan karst rusak akan susah untuk diperbaiki.
Kalau ada perubahan ttg Zonasi dari Kawasan Karst imbal jasa lingkungan mohon diakomodasi dalam RTRW
Setuju ttg Karangsambung (Bapak helmi) ttg delineasi kawasan diluar Kabupaten Kebumen, mohon dikoordinasikan dengan Kabupaten Tetangga pada tahap berikutnya.
Cagar alam geologi : jangan hanya bangga yang menerima manfaat ekonomi dari Kabupaten Lain.
Das Luk Ulo dengan tambang pasir
Rencana JJLS : Mengenai Kawasan Karst ? diperhatikan jalurnya.
PantaI Mirit : Migrasi Burung perlu dilindungi dan dikaji pengelolaannya.Mohon ada payung yang masuk dalam RTRW

Setuju dengan solusi hutan rakyat serta analisis lindung dalam penyusunan RTRW

5.Bapak Prapto
Masukan :
Dicermati laporan pendahuluan ttg Landasan hukum : UU no 31 th direvisi mjg Tahun 2008 tentang perikanan.
Pesisir : UU NO 27 Tahun 2007 TTG pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil
Usulan/Koreksi :
Pengembangan TPI : lokasi TPI ada 8 dibangun oleh pemerintah : TPI rowo, Tanggunlangin, Tegalreto, tambak mulyo, Pasir, Karangduwur, argopeni, Logending.
Secara swadaya : di Lembu purwo Mirit, Surorejan Puring, Mohon dicermati pada tahap analisis untuk Zona-Zona layanan kegiatan nelayan di Sinkronkan dengan masterplan pusat.
TPI Logending dikaji kembali ada kajian yang menyatakan tidak sesuai, mohon ada peran dari Provinsi untuk dilokasi Logending (jangan di Cilacap).
Kondisi pantai nelayan Kebumen padat angka 2000 ton/tahun , diupayakan lebih meningkat, mohon diakomodasi dalam RTRW
Laporan pendahuluan VI-29 , belum muncul kata perikanan mohon dituliskan tersendiri seara dengan pertanian.
Kegiatan perikanan tangkap mohon dimasukkan.Sangat potensial maka harus dipayungi masuk dalam RTRW.

Perencanaan-perencanaan sektoral maupun perencanaan dibawahnya selalu diintegrasikan dalam bentuk KODIFIKASI dan MODIFIKASI, itu memang menjadi fokus utama dalam perencanaAn RTRW

TERMIN 3

1.Bapak Seniman (Forum Paguyuban Petani Selatan)
Usulan :
Mengingat tempo dulu, kawasan selatan sebagai daerah pertahanan. Sepanjang JJLS ada tanaman melon, lombok , Black Soya,ada 8 TPI lokal yang belum diakui ole pemeintah Kebumen? Mestinya kita hidupkan krn itu sumber penghidupan masyarakat.
Tanaman penghijauan: cemara udang, jati, mahoni jangan diseting untuk bambu saja.
Ada emping dll.Jangan hanya dihapus seperti perencanaan yang dulu, tidak boleh ada kegiatan apapun kecuali TNI mohon ditinjau kembali.
Potensi produksi pertanian, mohon dikembnagkan agrowisata pantai selatan, kegiatan pertanian, industri rakyat (lanting, emping dll), Dapat dilakukan Diversifikasi produk usaha pertanian .
Perlu bahasa yang selaras dengan adat masyarakat seiring dengan rasa dan moralitas masyarakat bagian selatan agar ekonomi dan penghidupan masyrakat tetap dapat lebih berkembang selaras dengan arahan keseluruhan.
Jelaskan ttg metode perencanaan penyusunan RTRW
Bab Pengendalian ruang mohon disosialisasikan secara selaras kpd masyarakat

Terima kasih atas informasi dan kepemahaman aspirasi lokal, akan dikaji dalam penyusunan RTRW.

2.Bapak Efendi
Usulan :
Fokus pernyataan bahwa kebumen merupakan daerah potensi pertanian, layanan prasarana irigasi sudah ada perencanaannya, perlu diakomodasi oleh tim Penyusun RTRW.
Kerusakan jaringan irigasi 70 % kewenangan pusat sekarang dalam kondisi rusak. Mohon perhatian khususnya alokasi dana, sekarang sudah ada dana untuk pemeliharaan.PKPI apa mungkin dikembalikan lagi pada pengelolaan rakyat?
Setara dengan program PNPM yang cukup berhasil apakah mungkin disampaikan ke pusat dari bapak-bapak dari Kimtaru jaringan irigasi tersebut diusulkan untuk ditangani ditingkat masyarakat.(ini sebatas usulan)
Harapan : jalan-jalan inspeksi saluran dimanfaatkan sebagai jalan umum kabupaten?
Mohon disampaikan ke pusat agar aset-aset tersebut di rawat.

Masukan :
Saluran induk wadaslintang barat: bisa ditingkatkan untuk fasilitas umum.
Saluran induk Sempor timur: bisa ditingkatkan untuk fasilitas umum

Pengelolaan dikembalikan ke PKPI sesuai peraturan tahun 2000 petani bisa bekerjasama dengan swasta.

Betul, akan mempertegas fakta lapangan saat ini

3.Bapak Mustika Aji
Usulan :
Masa depan di Bagian selatan, penyangga di bagian utara , masalah : kantong kemiskinan di utara.
Potensi hutan rakyat dan tanaman pertanian berbasis lahan kering : perlu dibangun fasilitas pelayanan publik dasar, dimana harus dibangun, mohon diakomodasi dalam RTRW.
Pusat-pusat ekonomi berbasis hutan lahan kering : lokasinya dimana sebarannya?
Daerah geowisata mohon dikaitkan dengan ekonomi dan lingkungan menjadi ekowisata.
Masalah : bertumpuknya potensi pengembangan transportasi dan pertanian mohon dicabntumkan usulan pengembangan ke utara, Kebumen menjadi pusat Pemerintahan, Gombong pusat perdagangan.
Waduk dan Greenbelt , serta permasalahan sedimentasi waduk mohon dimasukkan dalam analisis RTRW.
Infrastruktur irigasi sudah ada, perlu dipetakan.
Ditengah wilayah ada 2 wilayah yang unik yaitu adimulyo dan Bonorowo yang PEILnya dibawah laut, mohon dicermati dalam pengembangan. Untuk mengantisipasi pengembangan JJLS ke depan.
Potensi di JJLS dipetakan.

Terima kasih masukan dan diskusinya

4.Bapak Aris Panji (SRMB)
Usulan :
1.Masyarakat berharap besar pada Perda RTRW ini, jangan sampai memicu konflik kepentingan dalam kurun waktu 20 tahun .
Keprihatinan: bencana banjir dan kekeringan, hilangnya mata air,
2.Informasi : Mohon dipelajari ttg fenomena :
Perang sipil dan militer : Perda Provinsi : Kawasan pertahanan dan keamanan : di kebumen : Kecamatan Mirit. Hegemoni militer tentang keruangan?ttp juga disebutkan bahwa Zona tersebut adalah zona pengembangan ekonomi, mohon Konsultan mempelajari lebih rinci sebelum membuat keputusan.
Sekarang Kawasan Ambal dibangun Asrama militer , gardu (?), di Ayamputih.

Bagaimana batasan dan arahan kedepan ttg Kawasan tersebut

USULAN
Sosialisasi dan komunikasi RTRW melalui Ratih TV, Radio dan Web Site

Komisi D DPRD Kabupaten Kebumen
1.Menyambut baik dan mendorong agar perda ini segera diwujudkan
2.Anggaran yang terbatas akan diputuskan sesuai dengan skala prioritas yang telah dikaji.
3.Jangan sampai RTRW Kabupaten Kebumen bongkar pasang dengan tanpa acuan perencanaan yang jelas dan tegas.
4. Masing-masing lokasi mempunyai potensi tetapi pemerintah dan DPRD akan lebih fokus menangani pada suatu masalah yang diprioritaskan.
Produk RTRW ini merupakan prioritas.
5.DPRD mendukung kebijakan untuk lebih mengedepankan pasar tradisional dan pembatasan terhadap pasar modern/mall/mart.
6.Indikasi program lebih aplikatif sesuai dengan sikon kekuatan keuangan daerah.

Bapak Ir Dharma Gunadi
1.Terima kasih atas masukan dari peserta yang mempunyai tingkat kepemahaman RTRW yang tinggi.
2.RTRW mewadahi semua perencanaan yang ada di Kabupaten Kebumen.
3.Tempat untuk berlindung : dengan disusunnya RTRW semua potensi dan masalah akan dikaji dan ditata sesuai kaidah penyusunan perencanaan RTRW. Dalam perencanaan RTRW memuat ketentuan pemanfaatan dan pengendalian ruang. Maka RTRW harus disusun secara hati-hati dan benar.
4.Hal yang perlu dicermati : ruang terbatas, masyarakat bertambah banyak, untuk 20 tahun yad bagaimana kita mensikapi, contoh : pengaturan waktu /penggunaan ruang dan semuanya berawal dari trend/fenomena yang kita bahas saat ini.
5.Kajian awal karena akses kurang Kabupaten Kebumen pernah masuk dalam Kabupaten Stagnant, Padahal PDRB nya berada diatas rata-rata.
6.Masalah fungsi ruang : ada yang tidak bisa dibatasi secara administrasi, mis: air , jalan, karst, pada tahap sinkronisasi hal tersebut akan dibahas di tingkat provinsi terkait dengan kerjasama antar daerah. Maka RTRW harus disusun secara terintegrasi dan dicek setiap limatahunan.
Penutup

Acara ditutup jam 12.45 WIB.
Terima kasih

Konsultan PT Ciptaning dan PT Sarana Budi

Wednesday, August 04, 2010

Membincang Tata Ruang Wilayah

Perda Propinsi Jateng, No.: /Tahun 2009, tentang Rencana Tata Ruang Wilayah di Jawa Tengah baru saja lolos dari proses dengan segala perdebatannya. Aturan yang dirancang berlaku selama 20 tahun ke depan ini begitu penting dan strategis. Perda Provinsi ini juga sekaligus membatalkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 21 Tahun 2003 tentang RTRW Provinsi Jawa Tengah

Bagaimana pula dengan implementasi aturan ini yang mestinya menjadi acuan dalam rancangan Perda Kabupaten Kebumen tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayahnya? Berikut ini sebuah resume dari opini massarakyat yang mendasarkan pada apa yang pernah terjadi berkaitan dengan merancang kebijakan strategis dalam pemanfaatan kawasan. Tulisan ini lebih spesifik akan menyoroti tentang pemanfaatan Kawasan Pertumbuhan Ekonomi yang sekaligus di kawasan itu terdapat kepentingan pertahanan dan keamanan.

Membaca Perda RTRW Jateng

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa wacana pembuatan aturan Perda tentang RTRW di Kabupaten Kebumen pernah mencuat dan bahkan memicu kontroversi waktu itu. Konsultan yang memborong proyek penelitian bagi penyusunan Draft RTRW, yakni cv. Wisanggeni dari Magelang menjadi fihak yang dihujat habis-habisan dalam Rapat Konsultasi di DPRD Kebumen. Karena apa? Saat itu betapa nampak vulgar kepentingan militer yang termuat dalam rangkuman hasil penelitian mereka.
Sebagai catatan empiris, hegemoni tentara selama setidaknya 27 tahun sebelumnya di kawasan pesisir Kebumen Selatan ini ditengarai telah banyak menimbulkan berbagai pelanggaran.
Kini, jika kita membaca pada Bagian Kedua yakni Kawasan Untuk Kepentingan Pertahanan Dan Keamanan dalam Perda Provinsi Jateng ini menyebutkan pasal 107 Rencana pengembangan kawasan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 huruf a, meliputi :
huruf: (f) Kawasan Mirit di Kabupaten Kebumen.
Tetapi kasunyatan yang terjadi masih menunjukkan gejala arogansi militeristik yang mengabaikan apa yang pernah dilakukan oleh 3000-an KK Petani Kebumen Selatan. Demonstrasi Penolakan Latihan TNI di kawasan pesisir Kebumen Selatan oleh ribuan petani pada 14 Mei 2009 yl; kini seperti hilang dari ingatan para pengambil kebijakan. Fakta lain, setelah resistensi petani ini bahkan TNI-AD membangun tangsi militer di desa Ambalresmi Kecamatan Ambal. Bahkan lagi, diam-diam membangun pos "gardu" tentara di desa Ayamputih Kecamatan Buluspesantren. Ingat, di kedua desa ini bukan wilayah yang diperuntukkan bagi kawasan pertahanan dan keamanan. Disamping itu, sejatinya dibutuhkan redifinisi kawasan pertahanan dan keamanan dengan perspektif baru yang tak mengabaikan kepentingan ribuan petani di kawasan ini.
Bagaimana seharusnya Perda RTRW Kabupaten Kebumen dibuat dengan tidak menyimpang dari Perda di atasnya?
Kita tunggu besok hari !

Sunday, February 28, 2010

Gebyag Cah Angon Urutsewu

Entitas Pemuda yang Sadar Budaya

Begitulah. Tradisi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, banyak ditandai dengan serangkaian kegiatan budaya yang melibatkan massa rakyat secara luas. Dan di desa Entak, kecamatan Ambal, telah melibatkan hampir seluruh warga desa di pesisir selatan Kebumen ini. Untuk tahun ini, perhelatan Maulid-an Tradisi dilaksanakan pada sepanjang hari Jum'at, 26 Februari 2010, di pantai pedukuhan Pranji. Serangkaian kegiatan dimaksud, dikemas dalam acara “Gebyag Cah Angon Urut-Sewu”.



















Dalam tradisi masyarakat desa Entak, keberadaan “bocah angon” merupakan realitas sosial yang secara turun-temurun telah memberikan kontribusi penting dalam keberlanjutan hidup.










Jika di tempat lain, ada pasar sekaten dengan kirab pusaka sebagai rangkaian perayaan “maulid-an”, maka di desa Entak sejak ratusan tahun silam dilangsungkan tradisi entak-entik dan kirab cah angon sebagai identitas tradisi maulid-an di desa pesisir ini. Desa agraris yang pada dasarnya memang lebih tepat sebagai desa pertanian dan kawasan wisata spiritual ini, pada hari itu berubah jadi meriah oleh kirab lembu sepanjang 400-an meter. Lebih meriah ketimbang tahun-tahun lalu.

Ada yang unik dan menarik dalam mempersiapkan perhelatan ini, yakni hampir semua warga desa terlibat dan memberikan kontribusi dalam perhelatan ini. Termasuk menyumbang batang bambu yang dikumpulkan dan selanjutnya dijual oleh panitia pemuda sebagai penopang biaya perhelatan.

Filosofi Cah Angon










Dalam pandangan masyarakat di kawasan pesisir, keberadaan “bocah-angon” (penggembala) merupakan entitas dari realitas sosial yang sejak dulunya, tak pernah terpisah dari dinamika desa dalam kesehariannya. Ternak yang digembalakan, umumnya berupa lembu atau kambing, merupakan pusaka warga yang mayoritas sebagai petani desa. Dan di bagian selatan kawasan berpasir halus ini terdapat zona penyangga yang dalam idiom local disebut “Bra-Sengaja”, serta berfungsi sebagai tempat menggembalakan ternak-piaraan. Sehingga dalam realitas keseharian, keberadaan para penggembala ternak menjadi bagian penting yang mewarnai dinamika masyarakat pesisir, sejak ratusan tahun lampau.















Pekerjaan menggembalakan ternak, meski bisa dipandang ringan, tetapi sejatinya beresiko besar. Karena bukan saja soal keselamatan ternak yang merupakan tanggungjawabnya. Tetapi di segala musim dan cuaca, panas dan hujan deras, di bawah terik yang membakar dan di kala badai disertai halilintar; kegiatan "cah angon" dalam menggembalakan ternak tetap berlangsung, demi keberlangsungan hidup itu sendiri. Bocah angon, dalam pandangan masyarakat tradisi, dianggap manusia yang dekat dan dikasihi Tuhan Yang Maha Esa.












Menurut Paridja (65 th), sesepuh dusun Pranji, eksistensi "cah angon" adalah eksistensi manusia yang merdeka.
"Jatining cah-angon kuwe, menungsa ora baen-baen, golonganing wong kang kinacek lan dikasihi Gusti Allah", demikian orangtua ini berfilsafat.
Realitas demikian agaknya yang juga dipupuhkan dalam tembang “ilir-ilir” ciptaan Sunan Kalijaga, salah seorang wali dan pujangga penyebar ajaran islam, penerus Nabi di bumi Jawa ini. Memaknai ajaran (wewarah) para wali-aulia ini menjadi bagian penting yang diperingati tiap Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun, khususnya dalam “maulidan tradisi” di desa Entak ini.

Tradisi “Entak-Entik” atau “Sangon Pesisiran”













Dalam idiom lokal, Entak bermakna selamatan untuk kalangan tua dan Entik adalah selamatan bocah cilik. Sehingga nama Entak ini diabadikan sebagai nama desa pesisir ini. Sejauh ini belum ditemukan data historis yang membeberkan bagaimana awal-mula tempat ini menjadi desa. Namun sejak jaman dulu, masa ketika jumlah cah angon begitu banyaknya, interaksi di tempat penggembalaan yakni di zona “bra-sengaja” ini begitu semarak dan dinamis. 

Anak-anak desa, sejak usia belia, hingga menginjak umur 12-an tahun, terbiasa berfikir bagaimana membawa bekal makan jika seharian dituntut untuk bekerja menggembalakan ternak raja-kaya di kawasan yang terbuka. Itulah sebabnya, meski di rumah ada makanan, dan menjadi cukup istimewa saat tiba hari maulid Nabi; tetapi ketika ingat bahwa saat menggembala ternak sering kesulitan mengisi perutnya, maka "cah angon" belajar dari kasunyatan yang harus dihadapinya. Inilah kearifan lokal yang barangkali pantas disebut sebagai "saving culture" itu.













Dan pilihan bekal yang praktis dan sehat, dalam pengertian memiliki kandungan protein tinggi, menjadi pilihan yang ideal. Dan produk pangan lokal yang mudah diperoleh dari kebiasaan berternak itik warga desa, maka telur bebek menjadi pilihan yang mewakili kepraktisan dan daya tahan. Secara filosofis, telur itik yang -biasanya diasinkan- ini disebut sebagai "telur hijau". 

Ternyata warna "hijau" ini memiliki wewarah sinandi agar orang selalu ingat dengan "kehijauan" desanya. Sumber pangan lokal lainnya yang diingat orang dalam tradisi entak-entik ini adalah "gethuk-pecel". Kultur ketahanan pangan lokal ini terangkat dalam ritual tahunan.












Begitulah, setidaknya setiap setahun sekali, khususnya di hari Maulid Nabi, anak-anak gembala ini tak mau makan di rumah meski makanan itu telah dimasak. Makanan ini akan dibawa sebagai bekal yang akan disantap bersama di tempat menggembala. Maka berlangsunglah "entak-entik" di sana.

Perhelatan yang juga lazim disebut sebagai tradisi “rolasan” ini, juga menampilkan kirab ternak lembu, ritual syukuran dan ditutup dengan ritual “pembakaran gubuk alang-alang” yang diiringi tembang dan do’a memohon keselamatan, dilangsungkan di kawasan pantai dukuh Pranji.

Tembang "Tlutur" dan "Ilir-Ilir"











Di tempat itu juga diadakan lomba “panjat belimbing”, seakan akan memaknai apa yang dipupuhkan dalam tembang para Wali: 
“cah angon, cah angon , penek-na blimbing kuwi, lunyu-lunyu peneken, kanggo mbasuh dodotira...”
Seseorang warga dan pegiat budaya, Afifudin, mendendangkan tembang tradisional dengan pupuh “Dandanggula” yang mengharu-biru dan menggambarkan realitas anak-gembala itu. Dan tak jauh dari tempat dilangsungkan ritual ini, terdapat dua pohon “kranji” yang tumbuh berjajar. Pohon ini, menurut mBah Paridja, ditengarai sebagai identitas lokal yang memiliki kaitan historis dalam penamaan padukuhan “Pranji”.

Pada masa yang lalu, terdapat pohon langka yang disebut-sebut sebagai pohon “Bintaro”. Muasal pohon ini memiliki kaitan dengan sejarah penyebaran agama islam dan keberadaan wali-sanga yang ikut mendukung berdirinya kerajaan islam “Demak-Bintoro” yang pertama di bumi Jawa. Pohon ini, menurut penuturan para tetua, memiliki daun sehalus sutera.

Sayangnya, kini pohon itu telah tiada lagi. Dan jika makin sedikit orang peduli, maka akan ada dan lebih banyak kehilangan khasanah budaya lainnya dari desa. Karena itulah, kepeloporan pemuda desa yang mencerminkan watak “cah-angon” dalam perhelatan budaya sangat pantas mendapatkan apresiasi luas.


Monday, November 23, 2009

Geliat Brecong










Senin, 23 Nov 2009. 

Menyusul apa yang telah dilakukan warga desa Setrojenar di sebelah baratnya, desa Brecong bergiat membangun gapura wisata di kawasan pesisir. Peletakan fondasi diawali dengan ritual selamatan di dekat lokasi pembangunan gapura. Keinginan warga desa Brecong membangun gapura wisata, sebenarnya telah cukup lama direncanakan. Tetapi karena belum terkumpul dana pembangunan itu, maka jadi tertunda. Prakarsa untuk membangun gapura wisata ini sesuai dengan aspirasi masyarakat dan juga perencanaan desa. Tetapi karena kurangnya dukungan dana, maka realisasi pembangunan ini mengandalkan dari swadaya warga.

Gapura ini dinilai penting, terlebih karena di lokasi itu terdapat pula cagar budaya tempat pesanggrahan Joko Sangkrib.

Sunday, November 15, 2009

Sidang Perlawanan

Malam ini tengah berlangsung sidang petani di Setro

Friday, November 13, 2009

Surat Tentara Kesekian Kalinya

Surat dari Komandan Kompi Kavaleri Panser 2 bernomor B/742/XI/2009, perihal Pemberitahuan Pelaksanaan Latihan Menembak Senjata Ranpur TA.2009. Surat yang dikirim dari Yogyakarta tertanggal 09 Nopember 2009 dan ditujukan kepada Bupati Kebumen, dengan tembusan kepada Camat Ambal, Kades Ambal, Kades Setrojenar dan Ketua Persatuan Nelayan Cilacap itu kini kembali bikin gusar petani.
Di desa Setrojenar, surat yang ditandatangani Kapt.Kav. Setyawan Wibowo ini seakan telah mengabaikan fakta tingginya resistensi petani setahun terakhir ini. Pada intinya surat ini memberitahukan akan adanya latihan menembak kendaraan tempur Kikavser 2, selama 3 hari sejak Rabu (18/11) hingga Jum'at (20/11). Dan selama itu pula petani dan nelayan tidak boleh melaksanakan pekerjaannya.

Aksi Penghadangan

Kabar kedatangan surat ini segera tersebar luas di kalangan petani. Bahkan dapat menjadi pemicu menghebatnya perlawanan warga yang memang telah meninggi resistensinya; khususnya para petani pemilik tanah di kawasan pesisir selatan itu.
Bahkan bagi Kades Setrojenar, Surip Supangat, yang paling memahami keadaan dan kemauan warga ini, tak berani menjamin akan dapat mengendalikan kemarahan petani, jika tentara benar-benar datang untuk melaksanakan latihan di wilayah desanya.

Tipuan Tentara

Fakta lain tentara menipu petani terjadi hari ini, Sabtu 14 November 2009. Sejak jam 07 pagi mereka melakukan latihan tembak dengan kendaraan tempur di desa Ambal. Padahal di surat pemberitahuan, hal itu baru akan dilaksanakan tanggal 18-20 November yad.
Terhadap kenyataan ini, petani dan khususnya menahan kemarahan. Beberapa tokoh masyarakat berusaha menenangkan untuk tidak sampai melakukan tindakan anarkis.
Sadar bahwa jika bertindak anarkis itu akan menghadapi resiko dikriminalisasikan, maka tipuan (tentara) itu dinilai sebagai provokasi.
Beruntung karena latihan menembak itu dilakukan di lain desa dan kecamatan berbeda. Konon beberapa Kades di sana secara diam2 mengijinkan latihan itu. Meskipun yang disepakati sebenarnya untuk tanggal 18-20 yad. Dan hanya dalam konteks menghabiskan belanja tentara untuk tahun anggaqan 2009.
Tetapi tipuan ini telah memicu keresahan petani dan pemuda khususnya di desa Setrojenar dan sekitarnya.

Sunday, October 25, 2009

Status Quo.. Bupati Ditunggangi ?

Statement Bupati Kebumen pada silaturahmi Selasa 20 Oktober 2009 di pendopo rumah dinas Bupati, adalah pengingkaran terhadap apa yang selama ini diperjuangkan petani kawasan Urut Sewu. Dalam "silaturahmi" yang hanya berisi pernyataan sefihak bahwa persoalan di kawasan Urut-Sewu telah dapat "diselesaikan" ini; pada kenyataannya telah sangat mengecewakan beberapa petani yang diundang ke sana. Kekecewaan ini ditunjukkan dengan mengambil sikap "walk-out" saat acara belum usai. Akan tetapi sikap ini tak "dibaca" oleh para pejabat Pemkab dan tentara.
Di tempat parkir, di sudut halaman pendopo, para petani menyatakan kekesalannya. Dan mensinyalir bahwa acara yang dikemas dalam bentuk "silaturahmi" ini tak lebih sebagai upaya tentara membikin bias persoalan.

Friday, October 23, 2009

Siaga Tani (di) Setro

Tiga hari setelah musyawarah petani kawasan Urut-Sewu menghasilkan ketetapan tekad untuk Menolak Latihan TNI dan mempertahankan kawasan pesisir selatan sebagai kawasan pertanian dan wisata; melayanglah undangan dari Bupati Kebumen. Undangan yang keperluannya tertulis sebagai silaturahmi, melibatkan unsur TNI, Pemkab dan tokoh masyarakat Urut-Sewu; di Pendopo rumah dinas Bupati ini juga dihadiri oleh puluhan petani dari kawasan pesisir selatan.
Sejak keberangkatan para petani ini telah bersepakat, bahwa jika dalam silaturahmi itu disinggung atau digiring untuk ada kesepekatan kompromi dengan tentara; maka petani akan meninggalkan tempat. Ternyata memang benar begitu. Berikut ini adalah cuplikan berita harian Suara Merdeka, edisi Kamis 22 Oktober 2009; TNI Bisa Latihan di Urut Sewu; Petani Boleh Bercocok Tanam:
______

KEBUMEN. Bupati Kebumen KH.M. Nashirudin Al Mansyur menyatakan permasalahan tanah Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI-AD dengan masyarakat di wilayah Urut Sewu, Kebumen untuk sementara menjadi status quo, yakni kembali pada keadaan sebelum terjadinya permasalahan.
Artinya penggunaan lahan untuk kegiatan dilaksanakan seperti sebelum ada permasalahan.
"TNI dapat melaksanakan latihan seperti sedia kala. Sedangkan para petani dapat melaksanakan kegiatan bercocok tanam", ujar Bupati pada acara silaturahmi antara TNI, Pemkab dan tokoh masyarakat Urut Sewu di Pendapa Rumah Dinas Bupati, Selasa (20/10).
______

Menanggapi berita ini, para petani mengkonsolidasikan diri kembali. Agaknya tekad untuk mempertahankan kawasan Urut Sewu sebagai kawasan pertanian dan wisata yang terbebas dari segala aktivitas tentara, bakal jadi perjuangan panjang. Petani menilai bahwa statement Bupati yang menyatakan kawasan itu untuk sementara menjadi "status quo", adalah sebagai pengingkaran terhadap kenyataan bahwa di situ ada masalah yang langsung berkaitan dengan hajat hidup ribuan petani.

Selamatan Dislitbangad

Hari Jum'at, 23 Oktober 2009, di Kantor Dislitbangad yang berada di desa Setrojenar diadakan tahlil selamatan dalam rangka rencana TNI melakukan latihan lagi. Beberapa petani yang berdekatan dengan lokasi dan diundang pada acara itu, memastikan maksud hajatannya memang akan latihan kembali. Kabar ini sontak memicu reaksi warga desa Setrojenar yang lainnya, serta pemuda.
Ribuan orang mengepung kompleks kantor yang sekaligus berdekatan dengan mess asrama.
Beruntung situasi yang kemudian memanas hampir tak terkendali ini dapat diredam, bukan oleh aparat, tetapi terutama oleh para tokoh seperti Kades dan para tokoh lainnya.
Situasi ini menyadarkan semua warga bahwa masih ada ancaman penggunaan kawasan pertanian sebagai zona latihan tentara dan ajang uji-coba senjata. Sehingga tekad untuk menolak segala bentuk latihan TNI makin membaja. Dan sejak lama memang telah disepakati, jika pada saatnya tentara bersikeras mau latihan kembali, maka semua warga akan menghadang dan menggagalkannya.

Profokasi Tentara di Tengah Hari

Malam itu banyak orang berjaga, terutama para pemuda desa Setrojenar. Paginya juga masih berlanjut, meski tak sebanyak saat malam. Banyak petani memutuskan untuk menunda pekerjaan di sawah ladang pada hari itu. Hal ini untuk mengantisipasi segala kemungkinan di siang harinya.
Tetapi sejak pagi kehidupan berjalan seperti biasanya. Para pemancing yang biasa menyalurkan kesukaannya di pantai Setrojenar berdatangan.
Hal yang mencolok pagi hari adalah banyaknya kunjungan anak-anak SD yang kebetulan baru selesai melaksanakan test mide-smesternya. Ribuan anak dikawal para guru mereka naik sepeda. Ada yang datang dari SD Negeri Kalibagor yang jaraknya mencapai belasan kilometer.
Lepas tengah hari, warga yang lewat jalan Daendels menginformasikan ada satu bus tengah berhenti di warung makan sebelah timur kantor Camat. Melihat posisinya, beberapa tentara yang tengah turun untuk keperluan makan siang itu datang dari arah timur. Beberapa orang menunggu di sekitarnya.
Dan saat bus ini berjalan kemudian berbelok arah menuju jalan ke pantai, disampaikanlah pesan waspada. Bus yang tak seberapa besar itu langsung menuju ke pantai, dan bertanya ke beberapa orang mengenai posisi lapangan tembak.
Di kampung, pesan getok tular itu menggerakkan orang untuk keluar rumah dan bergerak ke jalanan desa. Tak lama kemudian berkumpul puluhan warga dan diikuti oleh warga lain di belakangnya.
(bersambung)
(bersambung)

Saturday, October 17, 2009

Resistensi Permanent

Setrojenar - Jum'at, 16 Oktober 2009. Sesuatu yang pernah diputuskan bersama, kemarin malam kembali diteguhkan. Semilir angin laut meninggikan harapan petani hingga dekat nadir malam di desa itu. Pada saat mana, lebih dari 50-an orang berkumpul di sebuah rumah sayap timur, dukuh Kuwang; dukuh yang penuh kekuatan tetapi nampak tenang.. Begitulah jika petani desa bikin agenda kumpulan untuk menyikapi perkembangan penting dalam mata rantai perjuangan panjangnya. Dan tak jauh di perempatan desa itu, puluhan pemuda bergerombol membincang dalam kesantaian yang riang tetapi nampak bahwa mereka berjaga-jaga.
Selama hampir delapan bulan , sejak 24 Februari 2009 lalu, petani kawasan pesisir selatan Kebumen menjalankan keputusan untuk menolak latihan tentara di wilayah yang dikenal dengan sebutan kawasan Urut-Sewu ini, maka pada Jum'at malam 16 Oktober 2009 kemarin, dikukuhkan kembali keputusan penolakan itu.
Dapat dikatakan bahwa musayawarah -yang berakhir hingga jam 23.47 wib- malam itu mencerminkan sikap lebih dari 3.000 keluarga petani pemilik tanah di kawasan pesisir. Di setiap pertemuan dan musyawarah yang dilakukan, selalu ada perwakilan petani dari beberapa desa. Dan keputusan untuk menolak latihan tentara, termasuk uji-coba senjata taktis di kawasan itu; tak berubah sebagaimana diputuskan pada musyawarah pertama.

Tolak Latihan TNI = Harga Mati !

Resistensi petani pada aktivitas tentara bukan dihasilkan dari aktivitas provokatif dan penyusupan -sebagaimana dituduhkan tentara- terhadap gerakan masyarakat sipil dari luar desa. Bahkan terhadap sinyalemen ini, petani mencibir, meski cibiran itu acap tersembunyi dalam hati.
Dalam sharing warga dikemukakan bahwa selama ini, bahkan hingga paska perayaan lebaran kemarin para “kumendan” tentara turun kembali ke beberapa desa, dengan cara yang mereka sebut sebagai silaturahmi dan mendekat kepada rakyat. Tak kurang dari mantan Danramil Buluspesantren beserta isteri yang datang di Senin siang, 21 September 2009. Disusul kemudian pejabat Dandim pada Selasa malam, 22 September 2009 di hari berikutnya.
Silaturahmi ini disambut baik oleh wakil petani yang telah memiliki organisasi bernama Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan.
"Silaturahmi itu baik, terlebih jika itu dilakukan sejak dulunya", kata Ketua FPPKS.
Tak urung dalam pendekatan itu yang belakangan dilakukan, ada cacat komunikasi dengan cara menghimbau pada petani untuk tidak percaya pada LSM atau juga mahasiswa yang masuk ke desa.
Cara pandang tentara ini telah menodai spirit silaturahmi itu sendiri. Bagaimana mungkin perilaku demikian dapat diterima jika dari nadanya saja telah berbau hasut..
Padahal perlawanan petani, dalam konteks ini semata berangkat dari kesadaran atas sejarah dan relasi kepemilikan tanah yang akan dimanipulasi. Bukti-bukti itu dapat disimak kembali pada statement-statement tentara yang berujung pada klaim atas tanah-tanah rakyat di kawasan itu.

Makna "Sedumuk Bathuk Senyari Bumi"

Pomeo Jawa klasik ini lebih dari menginspirasi jagad spiritual petani di kawasan Urut-Sewu, hingga kini. Ruh ini menjadi hidup dan menifest dalam wujud perlawanan petani, justru karena secara langsung petani merasakan dominasi tentara dan segala implikasinya selama 27 tahun. Mengambil keputusan untuk melawan dominasi tentara memiliki kait historis atas tanah pusaka warisan leluhur. Bahwa mempertahankan hak atas tanah menjadi kewajiban hidup telah dimaknai secara personal dan sosial.
Secara personal, setiap petani tak bisa teralienasi dengan tanah sebagai alat produksi utama. Secara sosial tradisi pertanian telah diwariskan secara turun-temurun, berdialektika dengan perkembangan kebutuhan hidup. Setidaknya dalam dekade terakhir ini pelibatan mesin-mesin pertanian dalam budidaya lahan makin massif saja. Jika dahulu, petani cuma bergantung pada tanaman padi varietas kering (gaga) dan palawija. Kini mulai dikembangkan budidaya tanaman perkebunan seperti semangka yang lebih menjanjikan nilai ekonomi. Kelangkaan sumber air kemudian disiasati dengan menggunakan mesin pompa.
(masih bersambung)

Wednesday, October 07, 2009

SetroJenar, di Mata Orang Luar

Seorang penyair Borneo menulis puisi yang mengena bagi pertentangan di bumi Setro. Ini sebuah ukuran bahwa apa yang terjadi di seberang pulau dilihat pula oleh kalangan sastrawan dan direspons menurut tradisi kepenulisannya.

Realitas harian lainnya menunjukkan perkembangan penilaian yang membaik atas kawasan pesisir selatan Kebumen, khususnya pantai Setrojenar di Kecamatan Buluspesantren ini. Betapa tidak. Setiap harinya banyak orang berkunjung ke sana. 

Secara data, pengelolaan wisata pesisir Kebumen selatan di musim lebaran ini pernah mencatat rekor 17.000 kunjungan untuk satu hari lebaran.

Pantai ini seperti mengingatkan telah tersedia syarat-syarat budaya untuk berkembang di masa yang akan datang. Nah, membaca puisi kiriman berikut ini seperti membantu melihat secara jernih problematika yang potensial menghambat syarat-syarat pengembangan kebudayaan rakyat itu. 

Seutuhnya dapat dibaca:

NEGERI YANG MANA

aku melihat engkau menuruni bukit
bukan saja engkau, tapi dia, dia dan dia
tiada pagar pada sawah-sawah hijau
yang sebentar lagi menguning
untuk dipanen dan membayar hutang

aku melihat engkau menatap nanar
pada hamparan sawah membentang luas
kau berkata dalam benakmu
bukan saja kau, tapi dia, dia dan dia
tidak lagi dapat kami tanami
sawah-sawah kami yang rusak
sawah-sawah kami yang beranjau

katanya tentara telah mengambil alih
lahan membentang nyeri
untuk bermain perang-perangan
katanya untuk menjaga negeri

dan kau, bukan saja kau,
tapi dia, dia dan dia
bertanya menjaga negeri
negeri yang mana
kami petani anak negeri
mestikah diam
menyerah pada penjaga negeri

07 Okt 2009

Monday, August 03, 2009

Pelatihan Paralegal bagi Masyarakat Urut-Sewu

Foto-foto dalam postingan ini diambil dari dokumen LPH-YAPHI yang salah satu program advokasinya menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Paralegal bagi Masyarakat Urut-Sewu.







Monday, July 20, 2009

Mushola Setro jadi Sentra Komando

Referensi gerakan massa boleh menukil dari mana saja, termasuk Latin Kontemporer dengan spirit Bolivariannya. Atau juga Filipina dengan peran gereja pada masa penggulingan diktator Ferdinand Marcos.
Di desa Setrojenar, petani belajar dari persoalan laten yang krussialnya. Sehingga mushola, dalam situasi darurat massa, dapat berubah fungsinya menjadi pusat komando gerakan.
Ini terjadi pada lepas tengah hari ini Senin, 20 Juli 2009 lalu.
Inisiasi Bupati Kebumen KH.Nasiruddin al Mansyur, beserta wakilnya Rustriyanto, yang menemui warga Setrojenar di Kantor Camat Buluspesantren, setelah pagi harinya dari Kec.Ambal. Dalam rombongan ini datang pula, Kapolres Akhmad Haydar beserta Kasat Intelkam dan lainnya. Juga Komandan Kodim 0709, dan beberapa staf. Tak ketinggalan Kepala Satpol PP berikut pasukannya. Satuan Polisi Dalmas juga disiagakan beberapa dan ada sepasukan lain yang disiagakan serta diketahui berada di tempat terpisah.
Forum Pertemuan yang difasilitasi Camat Buluspesatren dan dipimpin langsung oleh Bupati ini pada intinya berkaitan dengan program latihan Taruna Akmil. Latihan ini rencananya akan dilaksanakan selama 4 hari, mulai tanggal 22 Juli hingga 25 Juli 2009.
Intinya, TNI-AD melalui Bupati dan jajarannya, meminta masyarakat Urut-Sewu, khususnya petani desa Setrojenar untuk memberikan kesempatan bagi sukses terselengarakannya latihan Akmil itu.
Dua hari sebelumnya juga telah dilayangkan surat pemberitahuan dari Koramil Buluspesantren terkait latihan itu. Terhadap surat ini, petani melalui FPPKS membalas dengan menyurati Kapolres (dengan tembusan para pihak) tentang penegasan penolakannya.
Bahkan dalam surat itu (item 2) dinyatakan Petani akan melakukan penghadangan terhadap tentara dan menggagalkan dengan berbagai cara terhadap rencana latihan TNI.

Resistensi Petani

Penolakan petani terhadap latihan TNI di kawasan itu, pasca Aksi 14 Mei 2009, mendapatkan ujian. Apakah penolakan ini sekedar tuntutan sekelompok golongan reaksioner ataukah memiliki konsistensi dan solidaritas yang terus meluas. Fakta membuktikan alasan yang ke dua. Petani Menolak !. Resistensi ini lalu maujud ke dalam gerakan massa buat yang ketiga. Ratusan orang mengepung Kantor Camat Buluspesantren, tempat diselenggarakannya pertemuan yang dimulai pada jam 14.00 siang itu. Sehingga terakumulasi jumlah hingga ratusan orang banyaknya, meskipun yang diundang dalam pertemuan siang itu hanya beberapa perwakilan petani dan tomas.
Massa yang tertahan di luar pagar halaman dan terpanggang matahari, tak sabar menyikapi perkembangan musyawarah. Saat terhalang waktu sholat ashar dan musyawarah dipending oleh Bupati, massa mulai menunjukkan kekecewaannya. Terjadi dorong-mendorong antara massa yang merangsek dengan aparat polisi di pintu halaman.
Saat itulah didatangkan dua truk pasukan Dalmas yang semula bersiaga di Polsek yang berjarak ratusan meter di utara kantor Camat Buluspesantren. Situasi ini makin memicu kemarahan petani. Lalu beberapa mushola di yang ada di desa Setrojenar mengumandangkan seruan siaga. Merembet diikuti oleh mushola lain di sebelah timurnya. Muncul pula gerakan massa dari desa Brecong dan Entak. Dan saat postingan ini ditulis, susulan massa dari lain desa terlambat tiba.
Beruntung, bahwa pada akhirnya Bupati memutuskan untuk menggagalkan Latihan Taruna TNI di kawasan itu, dan meminta jajaran TNI untuk mengalihkan ke tempat lain.
(to be continued)

Thursday, July 02, 2009

Atribut Aksi Dicuri, Perlawanan Terus Dilakukan

Kabar dicurinya atribut aksi desa FPPKS di Entak, oleh fihak yang identitasnya belum diketahui; tak menyurutkan perlawanan terhadap TNI yang makin meluas.
Setelah semalam dibahas di rapat yang diikuti ratusan warga, diputuskan aksi susulan pagi ini.
Atribut aksi sebagai pengganti atribut yang dicuri sehari sebelumnya, kali ini dibikin langsung di lokasi tanah pertanian dekat patok TNI-AD. Bahan spanduknya dengan kain kafan! Dan ditulis seadanya dengan cat minyak, pilox. Papan-papan peringatan juga dibikin di lokasi itu.
Anak-anak tak mau ketinggalan, disamping musim libur, penting bagi mereka untuk mengerti sejak dini tanah-tanah leluhurnya yang dirampas tentara.
(to be continued)

Wednesday, July 01, 2009

Aksi Penolakan Itu Terus Dilakukan.

Pada hari Rabu, 1 Juli 2009, perempatan jalan desa Setrojenar pagi hari itu nampak seperti biasa saja pada awalnya, tetapi jelang jam 8 terjadi perubahan mencolok mata. Orang-orang bergerak menuju perempatan desa. nDilir dan teratur, laki-perempuan, besar-kecil dan tua-muda. Belum genap setengah jam kemudian, perempatan jalan desa itu terblokir sepenuh badan. Matahari pagi yang cerah menghangatkan badan dan sinar-Nya menguapkan sisa embun yang menyerupai kabut tipis di kawasan pesisir selatan. Atmosfir desa itu seperti penuh dengan pesan moral, harapan besar, spirit baru dan aura kosmik pekerja yang kemudian menggerakkan para petani desa berikut keluarganya. Sebagaimana mau pergi bekerja ke sawah, semua jenis alat pertanian tradisional dibawa serta.
Persis jam 08.41 wib, seorang Imam Zuhdi memimpin massa memanjatkan do'a keselamatan bersama. dan sejenak sebelum dimulai, para petani dan anggota keluarganya merapat serta membentuk barisan aksi. Spanduk dibentangkan, salah satu spanduk dibentangkan juga di atas perempatan itu. Nah, barulah terjelaskan kesibukan apa di pagi hari itu.



Mengapa Aksi Dilakukan di Desa ?

(to be continued)

Monday, June 22, 2009

Berani Mengabaikan Sejarah ?

Setelah baca judul di atas, maka lalu katakanlah: waspadalah.. waspadalah !!
Surat Pengantar Camat Ambal, dengan nomor: 045.2/117 yang diedarkan kepada beberapa Kades di wilayah Urut-Sewu, meliputi: Sumberjati, Kaibon, Kaibon Petangkuran, Ambalresmi, Kenoyojayan, dan Entak
Sepintas, seperti surat dinas biasa, bertanda-tangan pejabat Camat, lengkap dengan stempel. Tetapi menjadi "luar-biasa" ketika ternyata 6 halaman isinya berisi Peta Tanah. Dan Peta Tanah itu, bukannya dibuat oleh Badan Pertanahan sebagaimana mestinya, tetapi dibuat sebagai hasil pengukuran tim yang diketuai oleh "oknum" TNI-AD. Pernyataan resmi dalam Surat Pengantar, menjelaskan bahwa peta ini merupakan Data Batas Tanah Milik dengan Tanah Negara (di) pantai Kec. Buluspesantren, Ambal dan Mirit. Untuk tujuan apa? Keterangan lain menjelaskan bahwa peta ini diedarkan kepada para Kades di pesisir selatan, dengan tujuan "untuk menjadikan periksa dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya".

Bagaimana Mungkin ?

Bagaimana mungkin peta hasil pengukuran itu bisa dijadikan alat periksa dan dapat digunakan sebagaimana mestinya? Kalau itu mau dijadikan data, yang notabene bisa jadi acuan kebijakan, lha wong dibuat pada bulan Maret 1998 kemarin. Dan lagi, itu "cuma" hasil pengukuran tim.
Peta ini cuma memuat kepentingan tentara. Tetapi, jelas-jelas dengan cara memanipulasi sejarah tanah itu sendiri. Lalu apakah hak kepemilikan petani atas tanah yang berada di peta itu mau dihapus begitu saja?
Berani-beraninya pejabat sekarang memanipulasi sejarah.

Camat dan "oknum" Tentara Memicu Kontroversi!

Sebelum ini ada upaya pematokan tanah dengan patok yang "bukan bikinan BPN". Petani pemilik tanah ga terima, maka dirusaklah patok itu. Kasad mengancam akan mematok ulang dan menyatakan akan diambil tindakan tegas bagi siapa pun yang mencabut atau merusak. Takutkah petani? Tidak! Petani Urut-Sewu malah menyiapkan kentongan bakal buat bikin "titir kampung" jika tentara berani matok tanah mereka, bakal diserbu.
Setelah pematokan tanah yang (bahkan jaraknya lebih dari 500 m dari garis air) dilakukan TNI-AD menimbulkan reaksi keras yang meluas, kini muncul modus baru yang memicu kontroversi lain. Baca semua postingan Kisah Tentang Pal-Budheg itu Fakta Sejarah; di weblog ini. Itu saksi bisu yang sejatinya tak bisa ditawar dalam menjelaskan fakta. Fakta ini bahkan diakui oleh pemerintah penjajah sekalipun.
Batas tanah negara itu ya cuma sejauh "pal-budheg". Atau, sebagaimana pernyataan BPN dalam acara audensi Petani Urut-Sewu dengan Bupati (AsBup I dan AsBup II), di beberapa desa seperti Setrojenar, malah jaraknya cuma 210 hingga 220 meter dari garis air. Itu Tanah Negara yang di zaman kolonial dulu disebut Tanah Kumpeni. Terakhir, BPN Jawa Tengah turun ke kawasan Urut-Sewu dengan Peta Tanah yang sesungguhnya. Batas Tanah Negara dengan Tanah Rakyat ya cuma rata-rata sejauh 200-an meter dari garis air. Baca: 200-an meter. Itu bukan pernyataan persun, tapi mewakili lembaga yang berwenang dalam soal tanah!
Nah, kenapa jadi ada ukuran sampai 500 meter; itu ada juga sejarahnya. Luasan yang rata-rata berjarak 200-an meter dari garis air itu, jika dipakai latihan TNI-AD atau uji coba senjata taktis; tak cukup luas. Maka pihak Dislitbangad waktu itu mendekati para Kades lama guna meminta pinjam tanah di wilayah pesisir desanya untuk dipakai pada saat-saat latihan dan uji-coba itu.
Ingat: Pinjam Pakai ! Dan ingat lagi: Kebijaksanaan itu diputuskan oleh Kades. Bukan oleh dan dengan musyawarah Petani Pemilik Tanah!
Tetapi justru karena kebaikan itu, malah pada gilirannya jadi momentum klaim kepemilikan TNI-AD atas tanah. Sudah dikasih Hati malah ngrampas Rempela, itu namanya.
Dan berani-beraninya pejabat sekarang memanipulasi sejarah. Sebab siapa yang mengabaikan sejarah, akan digilas oleh sejarah itu sendiri.

Saturday, May 23, 2009

Betapa Cerobohnya Tentara !

Betapa Cerobohnya Tentara. Lihat gambar disamping ini. Bom Mortir yang bisa meledak sewaktu-waktu, ditanam pada kedalaman tak lebih dari 0,5 meter di bawah permukaan tanah. Dan lokasinya berada tak jauh dari jalan menuju pantai Setrojenar. Kira-kira 25 meter di barat jalan. Diperkirakan ada 20-an bom yang ditanam di situ. Dan lokasi itu adalah lahan pertanian produktif yang dibudidayakan petani.
Bayangkan apabila bom ini meledak. Jumlahnya ada 20-an. Kehancuran seperti apa yang bisa diakibatkan dari ledakan itu ? Padahal, kini, setiap hari banyak orang berkunjung ke pantai Setrojenar. Terlebih di hari-hari libur, jumlahnya berlipat.
Ini sebuah ancaman (hazaard) yang membahayakan keselamatan orang banyak. Dan ancaman terhadap keselamatan orang banyak adalah kejahatan kemanusiaan.
Masih ingat trauma lalu? Tahun 1998, lima anak mati dengan tubuh berkeping! Karena ledakan mortir sejenis ini. Semua karena kecerobohan tentara yang berlatih di sana !

Saturday, May 16, 2009

Tolak Kawasan Hankam di Urut-Sewu; Sebuah Catatan Demonstrasi

Benih Revolusi telah ditebar dan bersemi di kawasan Urut-Sewu. Lalu muncul hasil semaiannya pada hari Kamis siang itu, 14 Mei 2009, di jalanan kota Kebumen. Ribuan petani dari kawasan Urut-Sewu Kebumen Selatan itu bergerak dalam barisan aksi sepanjang 200 meter. Mereka membentangkan spanduk, bendera, poster-poster tuntutan dan membagikan selebaran.
Banyak orang terkejut. Tak kurang pula aparat Polres Kebumen yang dibuat khawatir setelah menerima surat pemberitahuan koordinator aksi demonstrasi yang dilayangkan sejak tiga hari sebelumnya. Sehingga sampai tengah hari Rabu siang pihak polisi belum berani memberikan surat tanda terima pemberitahuan terkait demonstrasi petani Urut-Sewu itu. Kekhawatiran ini lebih dipicu lantaran jumlah massa yang diprediksikan sebelumnya sebesar 1.000 orang itu, potensial menimbulkan aksi anarkis. Dan polisi tak memiliki cukup personel untuk memastikan keamanan aksi tani yang baru dilaksanakan untuk yang pertama kalinya ini.
Meskipun begitu, phobia anarkisme gerakan massa dalam persepsi aparat tak pernah terbukti, meski jumlah massa aksi ternyata bertambah hingga 1.500 an orang; termasuk di dalamnya adalah perempuan. Karena sejak awalnya, aksi tani ini adalah aksi yang terkoordinir dan dipersiapkan melalui serangkaian rembug-rembug warga.

Aksi Tani Urut-Sewu: Keniscayaan!
Tak ada alasan untuk menginterupsi kehendak mayoritas petani di kawasan ini, bahkan dengan dalih keamanan petani itu sendiri. Desa Setrojenar yang mengambil peran 'revolusioner' sebagai pionir perlawanan terhadap tentara, telah teruji mengamankan wilayah desanya sendiri. Keamanan wilayah bukan lagi wacana kusir di sana. Tetapi telah menjadi sebuah sikap, sebuah identitas desa dan perilaku sosial. Lihat saja situasi di desa Setro, bagaimana ternak-ternak peliharaan mereka (kecuali saat hujan) tak pernah dikandangkan siang malam. Dan tak pernah ada kasus pencurian ternak.
Itu artinya, keamanan telah menjadi budaya, tata nilai dalam relasi kearifan lokal. Pernah mendengar analogi dalam jagad wayang, mengenai kawasan yang aman: "sato rojokoyo dhatan cinancangan". Bahwa hewan piaraan di sana tak ada dikandangkan dan terkunci, tetapi tak ada durjana pencuri. Jadi sebaiknya tak usah bicara keamanan desa dengan mereka. Termasuk dengan pemuda yang kemarin membangun gapura pantai Setrojenar itu juga. Pondasi dan wuwungan gapura itu dibangun dari konsep "ideologis" yang disebut keamanan dan ketertiban sejati.
Maka ketika perlawanan tani kawasan urut-sewu mencuat dalam bentuk aksi massa 14 Mei 2009, yang dipelopori oleh petani Setro, terbukti aman dan tertib.
Upaya untuk memoderasi munculnya aksi ini tidaklah kecil.